Syekh Junaid Al-Baghdadi sabar ketika digoda seorang wanita

Para pengunjung blog Hikmah Kehidupan yang terhormat pada kesempatan kali ini kami ingin menampilkan kisah salah satu ulama sufi yang termashur di zamannya yaitu Syekh Junaid Al-Baghdadi sebagai berikut;


Syekh Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama sufi dan wali Allah yang paling menonjol namanya di kalangan ahli-ahli sufi. Tahun kelahiran Syekh Junaid tidak dapat dipastikan. Tidak banyak ditemui tahun kelahiran beliau pada biografi lainnya, namun diperkirakan lahir sekitar tahun 210 H. Beliau adalah orang yang pertama menyusun dan membahas tentang ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Syekh Junaid Al-Baghdadi.
Sufi yang banyak dikagumi orang ini belajar ilmu-ilmu dasar kepada Sari al-Saqati (Paman dari pihak Ibu), yakni al-Qur'an, bahasa, sastra, dan terutama bidang sufisme. Selain pada belajar pada al-Saqati, ia juga belajar hadits dan fiqh pada Abu Thawr, seorang faqih di Baghdad, serta belajar sufisme pada Syekh Harits Al-Muhasibi.
Syekh Junaid Al-Baghdadi dikenal banyak kelebihan dan karamah. Di antaranya ialah pengaruh beliau yang sangat kuat setiap kali menyampaikan ceramah. Masjid dipenuhi oleh ahli-ahli falsafah, ahli kalam, ahli fikih, ahli politik dan sebagainya, yang hadir untuk mendengarkan ceramah sang Imam. Meskipun begitu, beliau tidak pernah sombong dan tidak pernah membanggakan diri atas kelebihan tersebut.
Ulama seperti Syekh Junaid Al-Baghdadi pun tak luput dari ujian dari Allah. Beliau menerima perlakuan tak menyenangkan dari beberapa orang musuhnya setelah pengaruhnya meluas di seluruh Baghdad. Mereka telah membuat fitnah untuk menjatuhkan reputasinya.. Musuh-musuhnya selalu berusaha menghasut khalifah di masa itu agar membenci Syekh Junaid Al-Baghdadi.
Tapi usaha mereka untuk menjatuhkan beliau selalu tidak berhasil.
Musuh-musuhnya tak segan-segan berusaha membuat sesuatu yang dapat memalukannya.
Pada suatu hari, mereka menyuruh seorang wanita cantik untuk menggoda Syekh Junaid Al-Baghdadi. Wanita itu pun mendekati Sang Syekh yang sedang tekun beribadah. Ia mengajak Syekh Junaid Al-Baghdadi agar melakukan perbuatan tercela. Dia merayu dan merayu, berusaha untuk menghentikan dzikir waliyullah tersebut. Dan, Syekh Junaid Al-Baghdadi tidak memedulikannya sama-sekali. Tak mengangkat kepala atau menolehnya. Beliau meminta pertolongan dari Allah agar terhindar dari godaan wanita tersebut. Dia tak ingin ibadahnya terganggu. Lalu, beliau melepaskan satu hembusan nafasnya ke wajah wanita itu sambil membaca kalimah Lailahailallah. Dengan takdir Allah, wanita cantik itu tersungkur ke tanah dan mati seketika.
Ketika mendengar berita kematian wanita penggoda tersebut, Khalifah memanggil Syekh Junaid Al-Baghdadi dan menuduhnya telah melakukan kejahatan. “Mengapa engkau membunuh wanita ini?” tanya Khalifah. “Saya bukan pembunuhnya. Bagaimana pula dengan keadaan tuan yang diamanahkan sebagai pemimpin untuk melindungi kami, tetapi tuan berusaha untuk meruntuhkan amalan yang telah kami lakukan selama 40 tahun,” jawab Al-Baghdadi.
Di samping terkenal dengan seorang sufi, Junaid Al-Baghdadi adalah seorang pengusaha hebat. Beliau selalu membagi-bagikan hasil perniagaannya kepada fakir-miskin. Namun, tentu saja waktu untuk berniaga hanya sebentar saja, karena beliau lebih mengutamakan pengajian bagi murid-muridnya. Kedainya selalu ditutup saat beliau mengajar. Lalu, setelah mengajar beliau akan kembali ke rumah untuk beribadah seperti shalat, membaca Al-Quran dan berdzikir. Setiap malam sufi besar ini memberi kuliah di masjid besar Baghdad. Jamaahnya sangat banyak, baik dari wilayah Baghdad atau daerah-daerah di luarnya.
Syekh Junaid Al-Baghdadi dalam sebuah kesempatan mengatakan, “Setiap jalan (tarekat) tertutup, kecuali bagi mereka yang sentiasa mengikuti perjalanan Rasulullah saw. Barangsiapa yang tidak menghafal al-Quran, tidak menulis hadis-hadis, tidak boleh dijadikan panutan dalam bidang tasawuf ini.”
Di waktu sebelum wafat, Syekh Al-Junaid telah menghatamkan bacaan Al-Qur'an kemudian memulakan lagi membaca Surah Al-Baqarah hingga 70 ayat. Sang Syeikh wafat pada hari Jum’at tahun 297 Hijiriah atau 910 Masehi. Beliau menghembuskan nafas di sisi As-Syibli, salah seorang muridnya. Konon, saat sahabat-sahabatnya hendak mengajar kalimat tauhid di telinganya, tiba-tiba Syekh Junaid membuka matanya dan berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melupakan kalimat itu sejak lidahku pandai berkata-kata.”
Demikian yang dapat kami tampilkan semoga bermanfaat bagi Para pengunjung blog Hikmah Kehidupan yang terhormat terimakasi atas kunjungannya sampai berjumpa lagi.

Tuliskan Pendapatmu Disini: